Selasa, 19 Maret 2013

Pengertian Retorika

Retorika adalah kecakapan berpidato di depan umum (study retorika di Sirikkusa ibu kota Sislia Yunani abab ke 5 SM). Retorika (dari bahasa Yunani ῥήτωρ, rhêtôr, orator, teacher) adalah sebuah teknik pembujuk-rayuan secara persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter pembicara, emosional atau argumen (logo), awalnya Aristoteles mencetuskan dalam sebuah dialog sebelum The Rhetoric dengan judul ‘Grullos’ atau Plato menulis dalam Gorgias, secara umum ialah seni manipulatif atau teknik persuasi politik yang bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato, persuader dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai, keprcayaan dan pengharapan mereka. Ini yang dikatakan Kenneth Burke (1969) sebagai konsubstansialitas dengan penggunaan media oral atau tertulis, bagaimanapun, definisi dari retorika telah berkembang jauh sejak retorika naik sebagai bahan studi di universitas. Dengan ini, ada perbedaan antara retorika klasik (dengan definisi yang sudah disebutkan diatas) dan praktek kontemporer dari retorika yang termasuk analisa atas teks tertulis dan visual.
Retorika adalah memberikan suatu kasus lewat bertutur (menurut kaum sofis yang terdiri dari Gorgias, Lysias, Phidias, Protagoras dan Socrates akhir abad ke 5 SM). Retorika adalah ilmu yang mengajarkan orang tentang keterampilan, tentang menemukan sarana persuasif yang objectif dari suatu kasus (Aristoteles) Study yang mempelajari kesalahpahaman serta penemuan saran dan pengobatannya (Richard awal abad ke 20-an) Retorika adalah yang mengajarkan tindak dan usaha yang efektif dalam persiapan, penetaan dan penampilan tutur untuk membina saling pengertian dan kerjasama serta kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.
Tujuan retorika adalah persuasi, yang di maksudkan dalam persuasi dalam hubungan ini adalah yakinnya penanggap penutur (pendengar) akan kebenaran gagasan topic tutur (hal yang di bicarakan) si penutur (pembicara). Artinya bahwa tujuan retorika adalah membina saling pengertian yang mengembangkan kerjasama dalam menumbuhkan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat lewat kegiatan bertutur.
Beberapa dimensi ideologi retorika
1. Dimensi filosofis kemanusiaan, dari dimensi ini, kita mengedepankan pemahaman dari sudut identitas (ciri pembeda) antara eksistensi. Identitas pembedanya:
•antara makhluk manusia dengan selain manusia
•antara manusia yang berbudaya
•antara yang mempunyai pengetahuan, keterampilan, pandangan hidup
2. Dimensi teknis, berbicara adalah sebuah teknik penggunaan symbol dalam proses interaksi informasi.
3. Dimensi proses penampakan diri atau aktualisasi diri. Berbicara itu adalah salah satu keperluan yang tidak bisa ditinggalkan
4. Dimensi teologis, menyampaikan ajaran agama sesuatu yang wajib (dakwah)
Bicara juga ada seninya. Pernahkah anda mengamati seorang penjual obat di pasar, ketika sedang menawarkan dagangannya? Atau, pernahkah anda ikut demonstrasi di kampus anda? Kalau pernah coba amati gaya bicara sang korlap!
Retorika bukan cuma menekankan pada output verbal seseorang ketika berbicara, namun juga output non verbalnya. Percaya atau tidak, gerakan bola mata kita atau arah pandangan mata kita, bahkan benda apa yang kita pegang saat berbicara, berpengaruh pada dipercaya tidaknya ucapan kita oleh orang lain. Seni berbicara memang erat kaitannya dengan seni mempengaruhi orang lain. Salah satu kuncinya adalah kenali audiens anda. Dengan mengenali siapa yang anda ajak bicara, anda bisa memprediksi apa dan bagaimana anda harus bicara, agar ucapan anda bisa dipercaya.

Sabtu, 02 Maret 2013

Manifesto Gerakan Pelajar IPM

Gerakan pelajar di Indonesia dianggap mengalami kemunduran jauh dari periode awal revolusi dimana gerakan kaum pelajar menduduki actor sejarah paling utama disbanding dengan kelompok lain seperti buruh, tani, nelayan dan kaum aristokrasi traditional. Pasca reformasi, gerakan pelajar kembali disoroti semakin melembek dan kehilangan orientasi gerakan. IPM sebagai gerakan pelajar bercirikan modern dan islam mengalami dinamikanya sendiri. Meski secara paradigm mengalami transformasi namun sejatinya mindset sebagian besar anggota tidak berubah bahkan menghadapi persoalan internal yang tidak tuntas termasuk birokratisasi diri, elitism, problem bahasa pergerakan dan sebagainya yang menjadi hambatan tersendiri bagi proses transformasi gerakan .


IPM adalah sebuah organ hidup yang dinamis. Menggeliat jika ditekan, dan malawan jika terancam. Cirinya adalah bergerak seirama sejalan ketika melihat kemungkaran ditegakkan dan selalu gelisah melihat fenomena jahiliyah modern: westernaisasi, kapitalisme, globalisme, dan sebagainya. Benarkah nilai-nilai positif itu masih bisa diklaim oleh kader-kader atau simpatisan? Bisakah pasukan elite IPM di level pusat dan wilayah berfikir apa yang sedang terjadi setelah hampir separuh abad gerakan ini dilahirkan? Bisakah kita berfikir, refleksi kritis dan ideologis tentu akan memberikan bobot tersendiri bagi keberlangsungan kader dan pergerakan. Tidak bisa dipungkiri, bahwa bangsa ini masih butuh sumbangsih gerakan pelajar tetapi gerakan pelajar yang bagaimana yang memberikan ruang yang kondusif untuk perubahan—transformasi bangsa terutama dikalangan pelajar Indonesia. Melalui Pelatihan Kader Taruna Melati Utama ini diharapkan mampu menjadi forum curah gagasan untuk menggagas model gerakan IPM baru untuk sinergisitas nilai & perjuangan.
Falsafah Pergerakan IPM
IPM adalah sebuah gerakan pelajar (student movement), artinya IPM selalu melakukan gerakan-gerakan secara terus-menerus berpihak untuk kepentingan pelajar. Yang mana dalam pergerakannya IPM memperjuangkan Agama (tauhid), Ilmu, ummat, bangsa dan Negara. Tauhid dan Ilmu adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan dalam falsafah pergerakan IPM, kedua hal ini ialah ruh gerakan IPM sebelum membawa nilai-nilai yang lain. Bagi IPM bertauhid tanpa Ilmu ialah buta, bagaikan seoran sufi yang kehilangan tongkatnya. Sedangkan bila berilmu tanpa tauhid, akan berbahaya kerena ilmu tanpa tauhid akan membawa pada kerusakan. Selain dua hal di atas, apa yang dilakukan IPM harus berdampak pada ummat, Negara dan bangsa Indonesia. Sebagai bentuk kerahmatan semesta alam, IPM mengawal terbentuknya Baldatun Toyyibantun warabbun Ghofur, yaitu masyarakat utama yang berperadaban. Kesemuanya itu adalah manifestasi dari perjuangan tauhid dan ilmu. Sekarang yang menjadi salah satu ancaman IPM sendiri adalah muncul dari dalam atau inworld looking (kita bisa mudah mengidentifikasi ini) dan outworld looking (melihat realitas yang menjadi persoalan sehingga menjadi perioritas gerakan.
IPM memiliki paradigm gerakan, yaitu Gerakan kritis transformative IPM yang ditanfidzkan pada Muktamar Bandar Lampung adalah sebuah gerak lintasan jauh ke depan lalu dikerdilkan kembali dengan persoalan militansi, lalu diperkuat dengan kedaulatan pelajar dan dilenyapkan dengan pragmatism, kini muktamar terakhir menunjukkan menguatnya aliran developmentalisme dalam tubuh IPM. Ideologi semakin sirna dengan kemunculan ide pelajar kreatif yang dimanifestasikan dengan program komunitas sebagai basis gerakan tanpa bobot ideology dan miskin kerangka rekayasa social (social engineering). Disinilah dalam Taruna melati Utama di Bumi Raflesia, IPM melakukan refleksi dan evaluasi, sudahkah sinergi antara nilai-nilai yang diperjuangkan dengan tujuan yang dicapai, serta metode gerakan yang digunakan. Pada Taruna Melatu Utama kali ini ditemukan bahwa IPM mempunyai paradigma yang terdi dari tiga dimensi dalam melihat persoalan yang dihadarpi, yaitu keilmuan, kesadaran kritis-terbuka, dan hati suci, paradigm ini adalah dianggap relevan untuk IPM sekarang dan sesuai dengan falsafar KHA Dahlan.
Setelah berbicara paradigma, hal yang tidak boleh lepas karena menjadi kesatuan perjuangan ialah nilai-nilai (values). Diantara nilai-nilai yang menjadi perioritas perjuangan IPMada lima nilai, yaitu katauhidan, keilmuan, kekaderan, keorganisasian, dan kemanusiaan. Pertama, nilai ketahidan artinya IPM berjuang dan berkomitmen dalam upaya melakukan pemahaman terhadap pelajar muslim tentang tauhid yang benar. Yakni tauhid yang membebaskan dari hal-hal yang bersifat thoghut, kemudian menghasilkan pelajar yang sholih-muslih (sholih-dinamis) yang sholih secara individu dan mampu menyolehkan orang lain, dan lingkungan sekitar. Semua dibingkai dalam religious integral. Kedua, nilai keilmuan, artinya IPM meletakkan data, ralitas sosial, dan hasil-hasil kajian sebagai landasan berpikir dan bergerak, IPM meletakkan Al-qur’an sebagai sumber ilmu, kemudian mengaitkan antara konsep Al-Qur’an dan realitas sebagai dua hal yang tidak dapat terlepas, IPM memandang ilmu pengetahuan sebagai hal yang harus dikembangkan. Sehingga IPM memiliki semangat dalam mendukung, mewadahi, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. IPM memandang ilmu sebagai konsep yang harus diaktualisasikan (diamalkan). IPM menganggap bahwa ilmu tanpa amal adalah pohon tanpa buah yang keberadaanya tidak memiliki manfaat, sehingga mampu mewujudkan pelajar yang berilmu.
Ketiga, nilai kekaderan. IPM dalam berjuang harus memperhatikan nilai kepenerusan atau kesinambungan gerakan. IPM berjuang bagaimana bisa membentuk kader (penerus) yang kuat dan mampu melanjutkan perjuangan Muhammadiyah. Nilai ini sangat penting dalam roh setiap organisasi atau gerakan, terutama organisasi Islam. Islam memang tidak akan lenyap dari bumi, tetapi Islam mampu hilang dari bumi Indonesia melalui organisasi-organisasi besar Islam yang musnah satu per satu, dan organisasi itu akan musnah jika tidak memiliki kader-kader yang meneruskan atau memiliki kader namun lemah (inleander) tak berdaya. IPM tidak cukup menghasilkan pemimpin (leader) namun pemimpin yang tidak buta huruf yang mempu bersaing dengan apapun untuk berjuang yang disebut dengan (cracker).
Keempat, nilai keorganisasian. Nilai ini sangat penting dimiliki oelh sebuah organisasi, kesatuan tujuan, sekelompok orang dan kerja sama atas dasar saling membutuhkan ini harus dipelihara dan diperjuangkan dalam IPM. IPM bergerak menjadi aksentuator Muhammadiyah, artinya jika Muhammadiya kurang terdengan bahlkan tidak ada gaungnya sedikitpun, IPM berperan melakukan aksentuasi untuk menggaungkan perjuangan Muhammadiyah. Sehingga nilai-nilai organisasi Muhammadiyah mampu tersampaikan pada masyarakat. Kelima, nilai kemanusiaan. pelajar tidak bisa dipisahkan dari realitas hidup. Pelajat bersama IPM dituntut untuk memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap realitas sosial. Pelajar bagaimanapun sempurna pribadinya, tidaklah akan mempunyai arti dan nilai hidupnya, kalau sifat kehidupannya secara perseorangan( sendiri-sendiri). IPM harus memiliki rasa cinta sesama manusia (filantropi), dan mampu membangun kehidupan bersama masyarakat dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (masyarakat utama).
Selanjutnya berawal dari paradigma dan nilai yang diramu dalam satu tujuan, untuk mencapai tujuan itu IPM memiliki KHITTAH PERJUANGAN IPM yang menjadi misi aktif sebagai garis perjuangan: 1. Menanamkan nilai-nilai ketauhidan pelajar sehingga memiliki karakter kesolehan yang dinamis, 2. Memperkokoh tradisi semangat membaca, menulis, diskusi, dan berprestasi. 3. Membangun karakter kader terutama para level pimpinan IPM sehingga mampu melakukan transformasi sosial pelajar. 4. Meneguhkan identitas organisasi sebagai gerakan pelajar populis dikalangan pelajar 5. Menguatkan komunikasi antara pimpinan dengan pimpinan dan pimpinan dengan anggota mulai dari pimpinan pusat sampai pimpinan ranting, 6. Membentuk Counter Culture, dan 7. Membumikan semangat nasionalisme dalam jiwa pelajar.
Kemudian wujud dari khittah tersebut diturunkan dalam Agenda Aksi yang sesuai denga realitas pelajar, dalam TMU Bumi Raflesia kali ini IPM memiliki beberapa agenda aksi diantaranya: Gerakan Tauhid Amal, Garakan Pelajar Berprestasi, Gerakan Kader, Gerakan Filantropi, serta gerakan cinta Indonnesia. Semua itu dalam rangka mewujudkan tujuan besar IPM, yakni “Terbentuknya pelajar yang bertaqwa, berilmu, dan terampil yang mampu meneruskan perjuangan Muhammadiyah dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya".


Kamis, 28 Februari 2013

Definisi Kepemimpinan, Tipe Kepemimpinan dan Teori Kepemimpinan

Definisi Kepemimpinan
Kepemimpinan atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia (Moejiono, 2002). Ada banyak pengertian yang dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing, definisi-definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.
 
·         Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
·         Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
·         Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpnan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.
Type Kepemimpian
Situasi lingkungan bisnis yang secara dinamis terus berubah menuntut perusahaan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Kegagalan dalam mengenal perubahan dan kecepatan beradaptasi dapat menyebabkan perusahaan tidak memiliki daya saing yang baik.
Ada empat tipe kepemimpinan yang dapat digunakan untuk berbagai organisasi:
Directive
Adalah salah satu tipe kepemimpinan tertua dan seringkali disebut juga dengan pendekatan otoriter. Dalam tipe ini, pemimpin akan menyuruh seseorang untuk melakukan sesuatu dan mengharapkan mereka untuk segera melakukannya.
Participative
Dalam tipe ini, pemimpin mencari input dari pihak lain dan mengajak orang-orang yang relevan dengan pembahasan untuk pengambilan keputusan
Laissez-faire
Mendorong inisiatif dari banyak pihak agar bersama-sama memikirkan bagaimana proses pengerjaan sampai menghasilkan outcome.
Adaptive
Gaya kepemimpinan yang mengalir dan menyesuaikan gaya sesuai dengan keadaan lingkungan dan individu yang berpartisipasi.
Teori Kepemimpinan

Kegiatan manusia secara bersama-sama selalu membutuhkan kepemimpinan. Untuk berbagai usaha dan kegiatannya diperlukan upaya yang terencana dan sistematis dalam melatih dan mempersiapkan pemimpin baru. Oleh karena itu, banyak studi dan penelitian dilakukan orang untuk mempelajari masalah pemimpin dan kepemimpinan yang menghasilkan berbagai teori tentang kepemimpinan. Teori kepemimpinan merupakan penggeneralisasian suatu seri perilaku pemimpin dan konsep-konsep kepemimpinannya, dengan menonjolkan latar belakang historis, sebab-sebab timbulnya kepemimpinan, persyaratan pemimpin, sifat utama pemimpin, tugas pokok dan fungsinya serta etika profesi kepemimpinan (Kartini Kartono, 1994: 27).
Teori kepemimpinan pada umumnya berusaha untuk memberikan penjelasan dan interpretasi mengenai pemimpin dan kepemimpinan dengan mengemukakan beberapa segi antara lain : Latar belakang sejarah pemimpin dan kepemimpinan Kepemimpinan muncul sejalan dengan peradaban manusia. Pemimpin dan kepemimpinan selalu diperlukan dalam setiap masa. Sebab-sebab munculnya pemimpin Ada beberapa sebab seseorang menjadi pemimpin, antara lain:
a. Seseorang ditakdirkan lahir untuk menjadi pemimpin. Seseorang menjadi pemimpin melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta didorong oleh kemauan sendiri.
b. Seseorang menjadi pemimpin bila sejak lahir ia memiliki bakat kepemimpinan kemudian dikembangkan melalui pendidikan dan pengalaman serta sesuai dengan tuntutan lingkungan.
Untuk mengenai persyaratan kepemimpinan selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kewibawaan, dan kemampuan.

1. Teori-teori dalam Kepemimpinan

a) Teori Sifat
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya.
Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah: – pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan; – sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integratif; – kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan berkomunikasi secara efektif.
Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain : terlalu bersifat deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat yang dianggap unggul dengan efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yang sudah kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin; justru sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.

b) Teori Perilaku
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
Ø Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki ciri ramah tamah,mau berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta memperlakukannya setingkat dirinya. Di samping itu terdapat pula kecenderungan perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas organisasi.
Ø Berorientasi kepada bawahan dan produksi perilaku pemimpin yang berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan. Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan. Pada sisi lain, perilaku pemimpin menurut model leadership continuum pada dasarnya ada dua yaitu berorientasi kepada pemimpin dan bawahan. Sedangkan berdasarkan model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpin dapat diukur melalui dua dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap bawahan/hubungan kerja. Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah fungsi dan gaya kepemimpinan (JAF.Stoner, 1978:442-443)

c) Teori Situasional
Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah
* Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas;
* Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan;
* Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan;
* Norma yang dianut kelompok;
* Rentang kendali;
* Ancaman dari luar organisasi;
* Tingkat stress;
* Iklim yang terdapat dalam organisasi.

Efektivitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kemampuan “membaca” situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya kepemimpinannya agar cocok dengan dan mampu memenuhi tuntutan situasi tersebut. Penyesuaian gaya kepemimpinan dimaksud adalah kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan perilaku tertentu karena tuntutan situasi tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut berkembanglah model-model kepemimpinan berikut:

a. Model kontinuum Otokratik-Demokratik
Gaya dan perilaku kepemimpinan tertentu selain berhubungan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, juga berkaitan dengan fungsi kepemimpinan tertentu yang harus diselenggarakan. Contoh: dalam hal pengambilan keputusan, pemimpin bergaya otokratik akan mengambil keputusan sendiri, ciri kepemimpinan yang menonjol ketegasan disertai perilaku yang berorientasi pada penyelesaian tugas.Sedangkan pemimpin bergaya demokratik akan mengajak bawahannya untuk berpartisipasi. Ciri kepemimpinan yang menonjol di sini adalah menjadi pendengar yang baik disertai perilaku memberikan perhatian pada kepentingan dan kebutuhan bawahan.

b. Model ” Interaksi Atasan-Bawahan”
Menurut model ini, efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada interaksi yang terjadi antara pemimpin dan bawahannya dan sejauhmana interaksi tersebut mempengaruhi perilaku pemimpin yang bersangkutan. Seorang akan menjadi pemimpin yang efektif, apabila: * Hubungan atasan dan bawahan dikategorikan baik; * Tugas yang harus dikerjakan bawahan disusun pada tingkat struktur yang tinggi; * Posisi kewenangan pemimpin tergolong kuat.

c. Model Situasional
Model ini menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat kematangan jiwa bawahan. Dimensi kepemimpinan yang digunakan dalam model ini adalah perilaku pemimpin yang berkaitan dengan tugas kepemimpinannya dan hubungan atasan-bawahan. Berdasarkan dimensi tersebut, gaya kepemimpinan yang dapat digunakan adalah * Memberitahukan;
* Menjual;
* Mengajak bawahan berperan serta;
* Melakukan pendelegasian.

d. Model ” Jalan- Tujuan ”
Seorang pemimpin yang efektif menurut model ini adalah pemimpin yang mampu menunjukkan jalan yang dapat ditempuh bawahan. Salah satu mekanisme untuk mewujudkan hal tersebut yaitu kejelasan tugas yang harus dilakukan bawahan dan perhatian pemimpin kepada kepentingan dan kebutuhan bawahannya. Perilaku pemimpin berkaitan dengan hal tersebut harus merupakan faktor motivasional bagi bawahannya.

e. Model “Pimpinan-Peran serta Bawahan” :
Perhatian utama model ini adalah perilaku pemimpin dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan. Perilaku pemimpin perlu disesuaikan dengan struktur tugas yang harus diselesaikan oleh bawahannya. Salah satu syarat penting untuk paradigma tersebut adalah adanya serangkaian ketentuan yang harus ditaati oleh bawahan dalam menentukan bentuk dan tingkat peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan. Bentuk dan tingkat peran serta bawahan tersebut “didiktekan” oleh situasi yang dihadapi dan masalah yang ingin dipecahkan melalui proses pengambilan keputusan.

 
Daftar Pustaka :

PEDOMAN PRAKTEK MEMIMPIN ORGANISASI


Oleh

J. Sujanto

  
Jika anda ingin berhasil memimpin organisasi, anda perlu membaca isi tulisan ini dan melatihnya dalam praktek sehingga anda menjadi pemimpin yang sungguh-sungguh didukung oleh masyarakat anggota organisasi anda dan melancarkan tercapainya tujuan/sasaran organisasi anda, baik bidang politik, sosial, usaha dagang dll.
            Tulisan ini adalah saripati pengalaman pribadi maupun pengalaman observasi berbagai kepengurusan bermacam-macam organisasi di Jakarta, mulai dari organisasi RT/RW, Gerakan Mahasiswa Djakarta (GMD), organisasi Paranormal, Politik, ORARI hingga organisasi sosial seperti Lions Club dan berbagai perusahaan di Jakarta. 

BAB I : FUNGSI ORGANISASI

Setiap organisasi senantiasa berfungsi sbb :
1.      Menetapkan tujuan/sasaran yang ingin dicapai dalam waktu yang telah ditentukan terlebih dahulu.
2.      Berdasarkan tujuan/sasaran, ditetapkan bentuk organisasinya.
3.      Menetapkan kriteria orang-orang yang akan ditetapkan/dipilih untuk menduduki jabatan tertentu dalam organisasi
4.      Organisasi menjadi tempat untuk penggodokan calon pemimpin  (leader selection/leidersselectie)
5.      Organisasi menjadi ajang pertarungan wawasan dan gagasan, sehingga memperoleh yang terbaik untuk jangka waktu tertentu.

Fungsi organisasi di atas sebaiknya dimasukkan dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Program Kerja organisasi yang merangkum kesemua fungsi tsb.

Penjelasan Titik 1 bab 1
Sebuah or (organisasi) apapun harus memilih sasaran/tujuan yang jelas sebelum bergerak/bekerja.
Tujuan/sasaran itu ditetapkan dalam jangka waktu tertentu, sehingga hasilnya dapat dievaluasi setelah beberapa tahun berjalan. Perubahan sasaran bisa terjadi dalam arti perubahan taktik maupun perubahan strategi untuk mencapainya, tergantung dari keadaan yang bisa saja terjadi secara mendadak, di luar hasil antisipasi. Bahkan perubahan sasaran secara menyeluruhpun masih dapat terjadi!

Penjelasan Titik 2 bab 1
Bentuk organisasi harus menyesuaikan diri dengan tujuan/sasaran yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu. Bentuk ini tidak hanya disesuaikan dengan dengan perundang-undangan yang berlaku, tetapi juga berkaitan dengan 'ruang gerak' yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.

Penjelasan Titik 3 bab 1
Setelah memiliki konsep yang jelas mengenai tujuan dan bentuk organisasi, anda perlu menetapkan kriteria calon pejabat yang akan memimpin gerak langkah organisasi.
Secara garis besar ada 4 tipe pemimpin yang berdasarkan pada :
1.      Kharisma
2.      Formalitas
3.      Tradisi
4.      Profesionalisme
Ciri-ciri pemimpin berdasarkan kharisma adalah : berwibawa, disegani (bukan ditakuti !), mudah dipercaya, pandai mudah bergaul dll. Pada prinsipnya menyenangkan banyak orang dan punya prinsip yang jelas.
Pemimpin berdasarkan formalitas adalah pemimpin yang ditaati karena jabatannya. Bisa asaja pejabat dari organisasi apapun ditaati, tetapi sesungguhnya belum tentu diterima oleh 'hati' yang terdalam.
      Pemimpin berdasarkan tradisi biasanya tumbuh dari proses kebudayaan, seperti pastor, pendeta, pimpinan pesantren dll.
Sesuai perkembangan jaman, maka dapat saya tambahkan tipe pemimpin yang berdasarkan profesionalisme, yang ditaati karena profesi yang diperolehnya dari dunia pendidikan formal maupun dari pengalaman hidupnya (autodidactic/ berpengalaman).
Di dalam kehidupan bermasyarakat kita jumpai pemimpin yang memiliki berbagai "campuran tipe pemimpin". Ada yang memang memiliki kharisma tetapi juga menduduki jabatan tinggi (formal). Ada pula yang sesungguhnya tidak disukai (tanpa karisma), tetapi ditaati karena jabatannya.
Berdasarkan perkembangan jaman, maka tipe pemimpin yang paling ideal adalah yang memiliki KHARISMA dan PROFESIONALISME serta jujur terhadap dirinya sendiri dan jujur kepada seluruh anggota organisasinya !

Penjelasan Titik 4 bab 1
            Organisasi yang berjalan dengan baik adalah tempat orang yang berbakat memimpin diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya sehingga menjadi pemimpin masa depan. Dengan kata lain, setiap organisasi yang baik menciptakan suasana untuk membentuk kader pimpinan masa depan organisasinya.
Berabagai cara untuk memilih calon pimpinan dapat dilakukan, seperti dengan memberi kesempatan untuk melakukan hal-hal kecil di tingkat yang lebih rendah, kemudian diberi kesempatan untuk yang lebih luas dan lebih kompleks. "Aturan main" harus dipegang teguh dalam rangka pembentukan kader pemimpin. Jangan mengadakan 'dropping' jika ingin memperoleh pimpinan sejati.

Penjelasan titik 5 Bab I
            Dalam or yang baik, suasana keterbukaan/demokratis harus diciptakan, dimana setiap anggota/bawahan dapat menyampaikan wawasan/gagasan.
Caranyapun dapat mengambil berbagai bentuk seperti tatap muka, kotak pos, atau pembentukan "think-tank" untuk menggodok berbagai wawasan/gagasan. Ciptakan suasana "berani bicara" dalam suatu rapat atau munas sekalipun. Dapat juga dalam bentuk questionnaire. Hal-hal tersebut sangat bermanfaat karena sesungguhnya merupakan masukan dari bawah yang mungkin dapat dipergunakan untuk menyusun kebijaksanaan (policy) yang lebih efektif untuk mencapai tujuan. Tetapi hal tersebut tidaklah berarti bahwa seseorang/sekelompok orang yang menduduki jabatan pimpinan tidak boleh membuat program kerja sebelum mendapat masukan dari anggota/bawahannya. Bisa saja disusun segala hal yang mencakup sebuah organisasi terlebih dahulu, karena bisa saja pimpinan secara intuitif merasakan kebutuhan organisasi dan anggota/bawahannya.

BAB II MENCIPTAKAN KEBERSAMAAN

            Organisasi yang berhasil adalah yang dapat menciptakan rasa kebersamaan (sense of belonging) dari semua orang yang tergabung dalam organisasinya. Mulai dari pimpinan sampai ke semua orang di berbagai divisi/departemen. Bukankah hasil organisasi adalah hasil kerja semua tim ? 
            Oleh karena itulah, menciptakan rasa kebersamaan itu penting. Bagaimana caranya? Hal itu bisa didahului dengan pencegahan perpecahan yang menghapuskan/menipiskan rasa kebersamaan. Untuk mencegah hal itu diperlukan adanya:
1.      Pimpinan yang lentur (fleksibel) tetapi tegas pada saat ketegasan diperlukan.
2.      Pembagian kerja (job description) yang jelas sejak awal, tanpa menghilangkan keterbukaan untuk berkreasi.
3.      Program kerja yang jelas tetapi lentur/fleksibel terhadap perkembangan yang membawa perubahan.
4.      Setiap Pimpinan Bagian/Divisi/Departemen dsb memberi perhatian yang manusiawi kepada bawahannya.

Penjelasan
Titik 1
            Seorang pemimpin yang berhasil harus memilki dua sifat sekaligus, yaitu kualitas sebagai DIPLOMAT dan JENDRAL, yang keduanya dapat dipelajari, dilatih dan dikembangkan oleh siapa saja (Baca  tulisan saya tentang "Memimpin Rapat" dan "Teknik Berunding").
Sifat Diplomat dilaksanakan pada saat-saat tidak diperlukan ketegasan dan sifat Jendral dipergunakan pada saat memang harus tegas dan tidak bisa lain.

Titik 2
            Pembagian kerja yang jelas sejak awal tanpa menghilangkan kebebasan berpendapat adalah sangat penting untuk menjaga keutuhan bawahan/anggota sebuah organisasi apapun juga.
Setiap divisi sejak awal sudah diberikan secara tertulis perihal tugas, wewenang, dan kepada siapa dia harus bertanggung jawab. Usahakan jangan sampai ada yang tumpah tindih (overlapping)  mengenai hal tersebut demi mencegah keruwetan di lapangan dan mengevaluasi hasilnya serta memberi penghargaan kepada orang-orang yang memimpin setiap bagian. Sekalipun sudah ditetapkan bagiannya masing-masing, orang/pejabat boleh ikut menyumbangkan wawasan/gagasannya untuk perbaikan bagian lainnya. Hal ini juga penting bagi Pipmpinan Eselon tertinggi untuk mengadakan mutasi jabatan sesuai dengan gagasan/wawasan orang tersebut di kemudian hari (untuk memilih "the right man on the right place"), lihat  Bab tentang "Memimpin Rapat dan Teknik Berunding".

Titik 3
            Dalam era globalisasi, sebuah program kerja perlu didukung oleh fleksibilitas, sehingga jika muncul perubahan yang besar (akibat derasnya arus globalisasi), program kerja itu dapat disesuaikan dengan perkembangan. Salah satu caranya adalah dengan mempersiapkan berbagai alternatif. Jika terjadi perubahan mendadak, alternatif itu dapat dijalankan.
Program kerja itu harus tegas sejak awal, sebagai target yang ingin dicapai. Dan penyusunan program kerja harus memperhatikan potensi yang ada dalam pelaksanaannya. Potensi yang perlu diperhitungkan adalah : Sumber daya manusia yang sesuai untuk setiap jabatan dan dana yang cukup untuk jangka waktu sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai, baik dari sumber sendiri maupun dari pihak luar. Selain itu juga diperlukan persiapan lokasi tempat or itu, serta peralatan yang cukup untuk memulai pelaksanaan program kerja.

Titik 4
            Pimpinan tertinggi beserta semua Pimpinan bagian harus memberi perhatian yang manusiawi kepada bawahannya untuk menciptakan kebersamaan dan menjaga keutuhan tim. Yang harus diciptakan/diusahakan bukanlah hanya "industrial relation" atau hanya "organizational relation", tetapi juga yang sangat penting adalah "human relation".
Dalam prakteknya hubungan manusiawi itu mengambil bentuk (sebagai contoh) : pertemuan (tiga) bulanan dengan acara a.l. : pimpinan menanyakan keluhan bawahan/anggotanya yang bersifat pribadi, kebutuhan keluarga dipenuhi jika or memang mampu untuk membantu ( di bidang kesehatan dan pendidikan); setiap tutup tahun diadakan semacam "Family Day" seperti tradisi Lions Club. Juga memberikan penghargaan merupakan tradisi yang baik untuk menjaga kebersamaan, asalkan memenuhi kriteria untuk mendapat penghargaan (merit system). Jangan sembarang memberi penghargaan karena akibatnya dapat ditertawakan orang banyak dan dapat menimbulkan iri hati atau cemohan yang tidak perlu terjadi, yang akhirnya dapat menimbulkan perpecahan.

BAB III MEMIMPIN RAPAT

Sebelum anda memimpin rapat, perlu disiapkan adanya:

A.     Agenda rapat yang jelas;
B.     Hari, tempat dan jam rapat;
C.    Undangan rapat dua minggu sebelumnya (minimal satu minggu sebelumnya);
D.    Persiapan ruangan dan tempat duduk yang baik/santai serta konsumsi yang cukup;
E.     Sound system yang baik.

Persiapan memimpin rapat :
1.      Mengadakan checking dan rechecking 5 (A s/d E di atas)
2.      Menguasai masalah agenda rapat
3.      Menguasai kebiasaan-kebiasaan rapat (AD dan ART or).
4.      Menguasai teknik memimpin rapat.

PENJELASAN
Titik I sudah cukup jelas
Titik 2
Menguasai agenda rapat berarti anda menguasai segala aspek permasalahan materi rapat. Apa yang ingin dicapai? Apakah ada faktor penghambat atau ada juga faktor yang menguntungkan? Mana cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan , mengatasi masalah ? Siapa saja yang perlu diminta untuk membahas materi rapat, sebelum pimpinan rapat membuka kesempatan untuk yang hadir guna melontarkan gagasannya masing-masing ?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sebaiknya dikuasai pemimpin rapat sebelumnya. Dengan kata lain, pemimpin rapat perlu mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi di dalam rapat yang sebenarnya

Titik 3
Menguasai kebiasaan rapat sesungguhnya bermuara pada penguasaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi
Disamping itu, diperlukan penguasaan teknik rapat serta peraturan dalam sebuah rapat. Hal ini akan kelihatan jelas pada waktu kita membicarakan "Teknik Memimpin Rapat".

Titik 4
Hasil rapat dapat memperkuat atau memperlemah organisasi. Oleh karena itu, kita berusaha agar rapat dapat berhasil baik, dengan cara menguasai teknik memimpin rapat yang baik pula sbb :
Untuk mempermudah para pembaca tulisan ini, saya buatkan skenario rapat sbb:
1.      Saya mengadakan checking apakah undangan dan persiapan rapat seperti A s/d E sudah siap betul
2.      Sekalipun saya sudah mempelajari materi agenda rapat, saya masih mengulang sekali lagi untuk meneliti materinya serta kemungkinan reaksi dari hadirin. Mungkin saya sudah mengetahui lebih dulu siap yang pro dan yang kontra, sehingga saya dapat mempersiapkan taktik dan strategi rapat. Mengenai hal ini, bacalah  mengenai Teknik Berunding, karena sangat mirip.
3.      Saya ketahui dari AD dan ART, hak-hak para hadirin yang terdiri dari Anggota Kehormatan, Anggota Luar Biasa dan Anggota Biasa atau Dewan Komisaris. Dewan Direksi maupun Pemegang Saham Prioritas dan Pemegang Saham Biasa serta para pejabat Eselon yang lebih rendah jika mereka diundang untuk ikut rapat. Saya mengetahui anggota yang  punya hak bicara dan hak pilih serta yang hanya mempunyai hak bicara saja, tetapi tidak memiliki hak untuk memilih dan dipilih.
4.      Pada waktu pembukaan rapat, saya akan menyampaikan:
a.        Membuka rapat dengan resmi dan terima kasih kepada semua hadirin atas kehadirannya
b.        Membacakan materi agenda rapat dan tata tertib rapat
c.        Menjelaskan apa yang ingin dicapai, yang merupakan hambatan dan yang ingin dijadikan faktor penentu. Semua hal itu untuk kebaikan organisasi dan kebaikan anggota/bawahan. Hal ini sangat perlu guna mengarahkan pembicaraan selanjutnya dalam rapat.
d.        Saya katakan bahwa pembahasan materi ini terdiri dari 2 sesi atau "floor" dan mempersilahkan para hadirin untuk mendaftarkan diri bagi yang ingin menyampaikan pendapat pada floor pertama. Kemudian satu per satu dipersilahkan berbicara. Nah, pimpinan rapat harus jeli/tajam mendengarkan pendapat pembicara yang 'menguntungkan', maka saya sebagai pimpinan rapat akan mengatakan: "Ya, itu betul, memang sepatutnya begitu". Jika pendapatnya 'merugikan' maka saya akan katakan "Ya, pendapat saudara memang patut dikemukakan sebagai bahan perbandingan dengan pendapat hadirin lainnya. Mungkin bisa lebih disempurnakan”. Pokoknya pendapat yang menguntungkan saya katakan 'baik' dan yang merugikan saya arahkan 'mengambang'. Toh nanti ada pendapat lainnya.
e.        Saya sebagai pimpinan rapat akan membuat resume dari semua pendapat dalam floor pertama dengan cara merumuskannya mengarah pada keinginan saya mencapai sasaran materi yang disidangkan. Lalu saya akan menanyakan floor, apakah masih diperlukan floor kedua . Kalau dikehendaki, saya lanjutkan dengan membuka kesempatan untuk para hadirin dengan mendahulukan yang belum kebagian bicara dalam floor pertama, dengan alasan kemungkinan ada ide-ide lain yang belum dinyatakan dalam rapat. Setelah selesai, semua pembicara dalam floor ke dua, saya membuat resume lagi. Kemudian saya 'tawarkan' untuk disetujui secara aklamasi (kalau menguntungkan). Jika floor tidak menyetujui dengan cara aklamasi, maka diadakan voting. Kemudian saya merumuskan rancangan keputusan sidang, untuk kemudian disahkan menjadi keputusan rapat.

Di dalam sebuah rapat akan kita temui berbagai macam tipe manusia sbb:

1.        Yang punya gagasan, tetapi tidak berani menyampaikannya di dalam rapat.
2.        Yang punya gagasan dan berani menyampaikannya. Kategori ini dapat dibagi lagi menjadi :
a.      yang selalu menentang pendapat orang lain;
b.      yang realistik sehingga dapat menerima pendapat orang lain asal lebih baik dari pendapatnya;
c.      yang menonjolkan dirinya tanpa menguasai materi yang sedang dibahas;
d.      yang diam saja sekalipun punya gagasan; hanya disampaikan di luar sidang (ump. waktu istirahat).

Kalau sidang istirahat dan belum mengambil keputusan , maka saya akan menghubungi tipe2 d tsb. (ump. saudara A). Jika ada gagasan yang menguntungkan dari orang tersebut, maka dalam kelanjutan sidang akan saya katakan "Saudara A mempunyai gagasan sbb:…. Dan gagasan itu sekarang saya sampaikan kepada floor untuk menjadi bahan pengambil keputusan kita bersama".
Demikian juga jawaban/komentar saya terhadap pendapat tipe 2 c.
            Menghadapi orang yag biasanya suka menentang, sebagai pimpinan rapat, saya akan mengatakan : "Pendapat anda saya serahkan kepada floor untuk dibahas atau tidak dibahas lebih lanjut". Dengan kalimat semacam itu, sesungguhnya saya mengarahkan floor untuk tidak membahas lebih lanjut.
            Hal-hal mengenai rapat ini sangat berkaitan dengan "Teknik Berunding". Oleh karena itu saya menganjurkan Anda mempelajari dan mempraktekkan "Teknik Berunding" di  tulisan saya berikutnya.

Jakarta 12 April 1985
  
Sumber : http://www.freewebs.com/gudangartikel/artikeljurnalismemimpin.htm